PORTAL RT PERTAMA DI BATAM

Budaya Berbicara dan Bekerja

Posted on: Januari 10, 2008

briss1.jpgADA makna yang dalam/luas pada dua buah kata Berbicara dan Bekerja. Keduanya merupakan kata kerja yang sering kita rangkai untuk membuat sebuah kalimat yang keluar dari mulut kita baik itu setiap hari, minggu ataupun tahun dan tidak terhitung entah berapa kali kita sudah mengungkapkannya.

Penulis tidak membahas arti kata berbicara dan bekerja dari bidang tata bahasa indonesia dikarenakan ilmu dan tujuan dari penulisan ini, tetapi mencoba membahas arti katanya berdasarkan ilmu, pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki.

Sejak zaman reformasi, budaya berbicara itu sudah sangat terbuka dan tidak ada lagi belenggu atau ketakutan setiap orang/kelompok untuk mengungkapkan pendapat/kritik, walaupun hal itu berkaitan dengan kehidupan bernegara dan pelaksanaan pemerintahan dan itu sah – sah saja, selama tidak merendahkan/mencemarkan nama baik (pribadi/institusi) dan fakta/data yang benar.

Berdasarkan judul tulisan, penulis mencoba memaknai arti budaya berbicara dan bekerja dalam satu kesatuan, yang ruang lingkup berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat RT/RW 04/23.

Kebebasan berbicara untuk mengungkapkan pendapat tentang permasalahan warga dilingkungan RT/RW 04/23 sangat bagus dan mutlak diperlukan, sehingga dengan adanya keterbukaan bisa dicapai solusi terbaik untuk menuju Tertib Sosial dan Lingkungan.

Pada saat sekarang ini penulis melihat kebebasan berbicara itu sudah salah kaprah/kebablasan, dimana kebanyakan orang hanya bisa menyampaikan kritik atas apa yang sudah ada, tetapi tidak mau bekerja apalagi memikirkan bagaimana solusi terbaik untuk menghadapi sebuah persoalan yang tengah mereka hadapi. Mereka lebih banyak “ngomong” daripada berbuat.

Dan selalu berada pada posisi oposisi (berlawanan), akan tetapi RT/RW 04/23 tidak membutuhkan orang seperti itu, yang dibutuhan adalah orang yang mau bekerja dengan ikhlas, seperti orang/warga yang ikut gotong royong rutin dilingkungan RT/RW 04/23, dimana goro adalah kegiatan sosial, dan setiap warga yang ikut goro berarti didirinya ada jiwa sosial (bukan takut denda Rp 20.000) padahal setiap rapat atau kumpul banyak sekali wacana atau pendapat yang dipaparkan dan itu semua sangat bagus akan tetapi pada kenyataannya orang yang selalu berbicara bagus itu belum tentu hasil kerjanya memuaskan.

Jadi menurut penulis kita harus koreksi diri lagi. Apatah lagi melaksanakan pekerjaan RT bukan tugas berorientasi profit, tetapi pekerjaan sosial yang bertujuan untuk memupuk rasa kebersamaan, dimana kita diminta tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi/keluarga sendiri.

Jika setiap orang dilingkungan RT/RW 04/23 hanya mendahulukan ego masing – masing maka tidak akan ada tertib lingkungan dan sosial, karena setiap kita mempunyai pemikiran yang berbeda oleh karena itu setiap warga dilingkungan RT/RW 04/23 bersikap positive thinking terhadap pengurus khususnya ketua RT (bpk Sugeng R), dimana mereka sudah memikirkan diri kita (semua warga/rumah) padahal kita sebagai warga hanya memikirkan diri/keluarga kita saja.

Untuk itu sudah seharusnya kita dukung program pengurus RT/RW 04/23 dengan menerapkan budaya hidup Banyak Bekerja Sedikit Bicara.(*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: