PORTAL RT PERTAMA DI BATAM

Tim Penindak Pelanggar Perda Kota Batam Dibentuk

Posted on: Januari 8, 2008

rudi-panjaitan.jpgBATAM  – Warga Batam kini tak bisa lagi seenaknya melanggar peraturan daerah (Perda) Kota Batam. Pasalnya, kini ada tim khusus yang akan mengawasi para pelanggar Perda itu.  Namanya, Tim Penindak Pelanggar Perda (TP3) Kota Batam. Tim ini berada dibawah koordinasi tim terpadu plus unsur dari kejaksaan. Namun, pelaksana utamanya tetap dari unsur Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Batam.

Tugasnya, menurut Kasubbag Dokumentasi Bagian Humas Pemko Batam Rudi Panjaitan, antara lain menindak para pelanggar Perda. Seperti warga yang melanggar Perda Nomor 5 Tahun 2007 tentang Kebersihan, Perda tentang Ketertiban Umum, dan lain-lain.

”Timnya sudah siap. Sekarang tinggal berkoordinasi lebih lanjut untuk menentukan prosedurnya,” kata Rudi.

Tahun 2008 ini, setidaknya dua Perda itu memuat sanksi yang cukup berat. Jika membuang sampah sembarangan, warga bersangkutan bisa dikenai kurungan tiga bulan atau denda maksimal Rp50 juta.

Adapun pelanggar Perda Ketertiban Umum, seperti membesarkan suara alat-alat musik di atas pukul 21.00 WIB, kecuali untuk kegiatan keagamaan dan pertunjukan live music yang diizinkan Wali Kota, para pengendara motor yang biasanya menggeber bunyi knalpotnya, jongkok di bangku taman,  menjadi calo angkutan umum dan lainnya dikenai sanksi tiga bulan kurungan atau maksimal denda Rp25 juta. (bp/med)

2 Tanggapan to "Tim Penindak Pelanggar Perda Kota Batam Dibentuk"

Saya Pribadi sangat senang mendengar telah dibentuknya Team Penindak Pelanggar PERDA BATAM. Tapi harapan saya bagaimana team yang dibentuk itu dapat sukses menjalankan amanah yang diberikan.
Sedikit share dari saya : Diperumahan saya ada dua warga yang melakukan pembangunan Pagar melebihi tanah yang dia punya ( mempergunakan pasum/ diatas selokan ) -+ 1 meter dari selokan . dari kita sudah coba memperingatkan, tetapi belum ada hasil yang maksimal..
Bagaimana tanggapan bapak tentang hal ini ?
Kapan ditindak hal yang seperti ini, karena tentunya hal ini membuat masyarakat resah. kalau dibiarkan tentunya tidak ada perbedaan beli rumah di perumahan dengan Ruli..
Saya mohon tanggapan pak.. untuk didiskusikan..

Ketua RT.01/RW.16
Kel.Taman Baloi
Kec.Batam Kota
Bernad Parsaoran Manalu

Terimakasih Bapak Bernad Parsaroan Manalu

Saya sebenarnya tidak memiliki kapasitas untuk menjelaskan masalah ini, karena apa yang sampaikan lebih terkait dengan persoalan tata krama dalam kehidupan bertetangga.

Tetapi sekedar berbagi pendapat, saya menyarankan sebaiknya persoalan ini diangkat pada forum rapat RT, dengan melibatkan warga yang jumlahnya cukup banyak.

Dalam pertemuan itu, barulah kemudian diurai satu persatu permasalahan yang dialami. Namun jangan lupa undang juga kepala keluarga yang menjadi –maaf–biang masalah.

Bahaslah hal-hal normatif dalam kehidupan bertetangga. Jangan mudah terpancing emosi, dan ingat, sebagai pihak yang merasa di sorot, dianya akan tetap keukeuh mempertahankan pendapatnya.

Tetapi, dalam kehidupan bermasyarakat, keputusan warga –bukan pengurus– sangat menentukan hasil perundingan yang akan dicapai. Ketika kesepakatan bersama sudah disepakati dengan pihak terkait, saya rasa dianya akan menerima keputusan dalam kelompoknya.

Akan tetapi, jika jalan keluar seperti itu tidak membawa hasil, gunakan hak pengurus untuk memaksakan aturan yang disepakati bersama warga. Dalam penggunaan hak ini, satu hal yang harus diwaspadai yaitu adanya gelombang emosi. Sebaiknya libatkan RW dan Lurah serta tokoh masyarakat didaerah Anda.

Bagaimanapun juga, tanah rumah warga sebenarnya hanya tanah yang terdapat dalam akta jual beli rumah yang lazim. Fasum seperti jalan dan selokan, itu bukan hak kita melainkan milik warga secara keseluruhan.

Makanya, pemanfaatan dan pemeliharaan fasum seperti itu di Gotong Royongkan. Bukan diperbaiki secara pribadi. Tetapi, banyak pihak/pemilik rumah yang salah kaprah. Mereka menganggap selokan dan jalan didepan rumahnya milik dia sendiri. Padahal anggapan dia itu keliru sama sekali.

Disitulah fungsi RT. Sebagai pekerja sosial, dia harus mampu bertindak tegas ‘mengawal’ aturan main dalam lingkungan tempat tinggal dia. Siapapun warga yang tinggal disitu, harus tunduk dengan aturan RT yang disepakati bersama warga. Warga pun tidak punya alasan untuk menolak aturan main yang diberlakukan. Fungsi warga hanya melakukan kontrol. Jika ketua RT-nya ‘menyimpang’ warga berhak bertanya. Dan pertanyaan itu disampaikan dalam forum rapat warga yang difasilitasi RT.

Jika warga Anda cuek, sebaiknya mundur saja ketua RT. Pilih lagi calon RT lain yang menurut mereka bisa berlaku adil dan bijaksana. Tetapi saya rasa, Anda sudah cukup fair. Terlepas apakah Anda sudah membicarakan masalah ini bersama warga lainnya.

Ingat pak. Ketua dan Perangkatnya merupakan aparatur negara yang ‘kasar’ menjalankan perintah. Kalau perintah Anda sudah tidak diikuti lagi, kok repot…? Anda lebih baik meletakkan jabatan secara jantan, daripada Anda makan hati dan dicap sebagai Ketua RT yang tak “punya nyali” oleh warga bisa melihat sebuah permasalahan itu secara jernih.

Demikian saran saya, maaf jika ada kata yang menyinggung perasaan Anda

Dari
Iselsariandi
Sekretaris RW 23/Koordinator Blok RT 4
Perum Cendana Batam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: