PORTAL RT PERTAMA DI BATAM

Wako Hadiri Pemakaman Korban Tenggelam di Pantai Melayu

Posted on: Januari 2, 2008

BATAM – Wali Kota (Wako) Ahmad Dahlan menyampaikan keprihatinannya atas banyaknya kasus anak-anak tenggelam dalam sebulan terakhir. Ia mengimbau warga Batam agar tak bepergian melalui laut, saat cuaca sedang mengganas seperti saat ini.  

 ”Kalau tak penting betul, tak usah menyeberang ke luar. Tak usah dulu ke Tanjungpinang, ke Belakangpadang atau ke mana saja yang naik kapal,” katanya.  

Dahlan, kemarin juga menghadiri pemakaman Raisandi Algeri (7) yang biasa dipanggil Geri, korban tenggelam di Pantai Maimun, Kampung Melayu, Batubesar, Nongsa yang ditemukan kemarin.

Geri dimakamkan di samping kuburan kakaknya, Riska Adelia Putri (10) di Pemakaman Kavling Nongsa. Dalam pemakaman Geri, sore itu, Dahlan menujukkan keprihatinannya pada keluarga Bukhori, yang kehilangan dua anak sekaligus.

 Ia memeluk Bukhori dan mencoba menguatkan hati isteri Bukhori. Dahlan secara khusus mendoakan Geri di atas pusaranya. Ia juga memberi sumbangan pada keluarga Bukhori dan keluarga Ujang, orang tua Tiara yang juga menjadi korban ombak Pantai Maimun itu. 

Dahlan meminta Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Batam menginformasikan kepada masyarakat, melalui media dan lainnya, tentang kondisi cuaca di Batam. 

 ”Biasanya, ombak besar ini terjadi sampai selesai Hari Raya Imlek,” tukasnya. Pindah ke kejadian tenggelam di Dam Duriangkang. Kepergian Waluyo meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekannya yang tinggal Perumahan Golden Land, Batam Centre.

 Kenapa tidak, Waluyo yang periang dan suka membantu, tiba-tiba meninggalkan mereka dengan cara tragis.  Ia tewas tenggelam, setelah sampannya karam di Dam Duriangkang.

Sebagai bentuk kesetiakawanan, beberapa rekannya dengan sabar menunggu upaya pencarian yang dilakukan Brimob Polda Kepri yang dibantu nelayan setempat. Wajah Yuli terlihat sedih, mata wanita yang berasal dari Pasaman ini sesekali melihat ke tengah dam, seakan memastikan apakah Waluyo sudah ditemukan atau belum.

Di tengah penantian ia bercerita, pagi hari sebelum kejadian, Waluyo bertingkah aneh terhadapnya. Pria yang masih bujangan ini seakan-akan memancing kemarahan Yuli. Dengan setengah bercanda, Waluyo mengedor-ngedor pintu kamarnya berulang kali.  Padahal saat itu Yuli tertidur pulas di atas tilam.

”Saya tidak tahu apakah itu tanda ia akan meninggalkan kami,” katanya sedih. 

Saat itu, Yuli sempat marah dan kesal kepada Waluyo. Mungkin sadar akan kemarahan Yuli, pria ini membalas dengan canda. “Akibatnya saya tidak bisa marah, padahal saya sudah sangat kesal,” katanya.

 Di pagi itu, Yuli juga melihat perubahan lain pada Waluyo. Usai bercanda ia melihat Waluyo duduk termenung di tempat kost. Padahal ini jarang dilakukannya. Waluyo yang bekerja sebagai buruh bangunan ini tidak pernah menyendiri, ia selalu berkumpul dengan teman-temannya.    

Tentang kegiatan memancing yang dilakukan Waluyo, Yuli awalnya mengaku tidak tahu. Siang itu, ia iseng meng SMS ke ponsel Waluyo dan menanyakan keberadaannya. Dari balasan yang dikirim diketahui Waluyo sedang berada di Dam Duriangkang. ”Saya menyusul ke sini dengan menumpang motor,” jelasnya.  

Dam Duriangkang salah satu dam yang sering menelan korban. Bagi masyarakat sekitar dam yang percaya pada mistik mengatakan kalau dam ini dihunyi makhluk halus. Tersiar kabar kalau dam ini dihuni buaya putih.

 ”Hampir setiap tahun dam ini memakan korban,” kata Ipah, warga yang tinggal di lokasi kejadian. Mereka yang jadi korban biasanya pengunjung yang menangkap ikan. Terakhir kasus tenggelam terjadi awal tahun 2007 lalu. Ketika itu dua orang tewas, setelah sampan mereka terbalik.  

”Mimpi Waluyo Dicukur Model Aneh” 

Sementara Sardi, kakak Waluyo mengaku sebelumnya merasakan ada firasat buruk. ”Malam tahun baru kemarin, saya mimpi dia dicukur, tapi modelnya aneh,” katanya, kemarin, sesaat setelah mayat korban ditemukan. 

Menurut Sardi, mimpi itu mungkin menjadi pertanda jika adiknya itu akan pergi meninggalkan ia dan keluarga untuk selama-lamanya.  Sardi mengatakan, terakhir kali ia berbicara dengan Waluyo melalui telepon, Selasa (1/1) pagi, beberapa jam sebelum adiknya itu memancing di Dam Duriangkang.

Saat itu, Sardi sedang berada di Padang, Sumatera Barat. ”Ia hanya mengatakan senang tinggal di Batam,” katanya. 

Beberapa hari terakhir, Waluyo memang rajin menghubungi keluarga-nya di kampung. Kedua orangtuanya selalu berpesan agar Waluyo berhati-hati.

Sang ibu, Pariem, yang dekat dengan Waluyo berkali-kali mengingatkan agar anaknya itu tidak pergi kemana-mana.

“Cuaca buruk, banyak terjadi musibah, ibunya selalu pesan begitu,” ujar Sukarno, paman korban. Sardi dan Sukarno, siang kemarin, tiba di Batam. Keduanya langsung meninggalkan kampung halaman, Padang, begitu mengetahui kabar tenggelamnya Waluyo.(int/bp) 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: